Minggu, 21 September 2014

Burn Out

Senin, 22 September 2014

Dealing With The Burnout..

Membaca suatu artikel dari Majalah Cleo edisi Bulan Juni yang cukup menohok untuk keadaan saya kali ini terkait Burn out..Yak..saya juga baru tau makna dari burnout itu setelah baca kok..Burn Out bisa didefinisikan sebagai suatu kondisi dimana seseorang mengalami kelelahan emosional, fisik dan mental yang disebabkan oleh stress yang berlebihan dan berkepanjangan yang berakibat hilangnya minat dan motivasi dalam bekerja serta produktivitas menurun. Yak...pas banget dengan keadaan saya akhir-akhir ini ya..selama ini saya pikir ini cuma lelah biasa, ternyata malah ada istilahnya..Burn Out.
Tanda-tandanya :
  1. Emotional exhaustion atau lelah secara emosional, merasa putus asa dan kosong serta enggan menghadapi hari kerja --> ini saya
  2. Depersonalization dan sinisme itu sikap menjadi negatif dan sini pada pekerjaan dan rekan kerja --> saya juga ngalami
  3. Menurunnya motivasi kerja adalah mulai tidak memperdulikan soal pekerjaan dan merasa terjebak dalam suasana kantor yang buruk sehingga prestasi menjadi rendah.. --> saya banget
Wah..gimana dong..semuanya ada di saya...haha...katanya saya harus waspada karena bisa mempengaruhi seluruh diri saya, termasuk kesehatan.. Waduh..bisa gaswat ini..ya untuk kesehatan akan saya minimalisir...tapi untuk hal pekerjaan saya benar-benar di tingkat tidak peduli...

Solusi??

Kalo diartikel si disebutkan bahwa kantor oriented ku harus disingkirkan..dengan cuti yang cukup lama, banyak aktivitas di luar kantor..aaaahhh...saya ingin liburan...

Kamis, 18 September 2014

Utang vs PDB??

Jumat, 19 September 2014

Pagi ini, dengan sangat tumben sekali saya membaca detik finance, padahal biasanya saya hanya baca detik hot..haha...berita yang saya anggap cukup menarik adalah terkait Pertamina yang mendapat 2 surat peringatan dari KPPU terkait penjualan premium di SPBU tol dan harga avtur Pertamina yang lebih mahal..tapi ini cuma awal, selanjutnya saya tertarik membaca tulisan dipojok bawah yang berjudul "Utang pemerintah RI kembali naik". Jujur saya ga terlalu mengikuti perkembangan perekonomian di Indonesia, tapi saya penasaran. Dalam berita tersebut disampaikan bahwa utang pemerintah bulan Agustus 2014 naik Rp 30 triliun dibanding Juli 2014 dimana Juli 2014 sebesar $215.77 M dan Agustus menjadi $ 216.08 M.
Sebagai lulusan statistika (walau bukan statistisi) saya agak tergelitik melihat pola dari data utang pemerintah dibanding rasio terhadap PDB. Jadi pagi ini iseng2 pengen nganalisis sedikit, ya walo secara ecek2 seperti mahasiswa statistika IPB di semester 3 yang baru belajar apa itu metode statistika...(ah..damn..i miss that time so much..)

TahunUtang Pemerintah (Rp triliun)Rasio thdp PDB (%)
20001.234,2889
20011.273,1877
20021.225,1567
20031.232,5061
20041.299,5057
20051.313,5047
20061.302,1639
20071.389,4135
20081.636,7433
20091.590,6628
20101.676,1526
20111.803,4925
20121.975,4227,3
20132.371,3928,7
Agu-142.531,8125,8

Nilai korelasi dari data diatas sebesar -0.68246 yang artinya hubungan keduanya berkebalikan, dimana utang tinggi maka rasio rendah dan utang rendah rasio tinggi..hmm...aneh kan..
Kemudian saya iseng melihat dengan regresi..

taraaaaaaa.....(diiringi musik)


hasilnya juga negatif, tentu saja karena seingat saya korelasi dan regresi itu kakak beradik dimana korelasi merupakan deteksi awal untuk analisis regresi.

Jika dianalisis lebih lanjut, mengapa hubungan antara utang dan rasio negatif apalagi dengan nilai R square 85.68%, padahal bila dilihat secara logika didapatkan bahwa jika utangnya tinggi maka rasio thdp PDB tinggi juga.  Ternyata saya lupa melihat bahwa antara 2000-2014 telah terjadi banyak perubahan termasuk variabel2 diluar model, adanya inflasi, suku bunga yang tinggi, nilai tukar rupiah dan lain-lain. sehingga sepertinya analisis regresi sederhana saja tidak cukup dalam membuat model terkait utang dan PDB.